Kuikat Semangat Di Komunitas RC-O



Image result for ilustrasi mengikat semangat membaca

            Reading Challenge-ODOP atau yang lebih akrab disebut dengan RC-O, suatu komunitas yang menggerakkan anggotanya untuk konsisten membaca buku di tengah situasi apa pun. Di komunitas ini tidak pandang bulu, jika melanggar peraturan yang ditetapkan ya siap-siap aja wassalam. Hehe 

            Sebenarnya saya mengikuti komunitas ini dengan senang hati dan menekadkan diri. Kok gitu? Ya iya, karena dengan mengikuti komunitas ini tugas kehidupan pun akan turut bertambah. Di samping tugas wajib sebagai hamba Allah, anak Mama dan Papa, anak kampus, eh ini bertambah tugas dari akibat anak dunia Maya.

            Saya sendiri tipikal orang yang terkadang abai dengan target-target saya. Apalagi jika si malas sudah menyerang, bisa tamatlah riwayat agenda-agenda yang awalnya sudah saya susun sedemikian rupa. Maka dari itu, untuk menjaga target-target saya, sebuah wadah positif itu sangat diperlukan. Saya ini seorang pribadi yang bisa diibaratkan sebagai mesin (karakter anak TE). Jadi jika tidak ada yang menggerakkan saya, potensi saya jadi kuang terasah.

            Yeah! Dorongan dari luar diri itu sangatlah dibutuhkan bagi saya pribadi (kan anak Thinking Ekstrovert, uups! Tutup muka). 

            So, bergabung di RC-O ini adalah sebaik-baik pilihan. Supaya saya yang katanya ‘suka membaca’ tetap konsisten membaca di setiap harinya tanpa mengenal suasana. Sehingga yang tadinya membaca itu hanya sebuah kesukaan bisa berubah menjadi kewajiban.

            Lagi pula membaca itu bukan hal yang sia-sia. Mengutip kata-kata pepatah yang berbunyi ‘Sebaik-baik teman duduk adalah buku’. Maka mulai 1 April 2018 ini, saya bertekad untuk membangun karakter ‘membaca itu waji’ dalam diri saya. Bismillah.
 

Di Detik-Detik Kelulusan ODOP

Hai.. Hai.. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Apa kabarnya teman-teman yang kebetulan sedang melirik tulisan ini?

Ah ya, hari ini aku sekedar ingin menumpahkan curahan isi hati, perjalanan dua minggu di detik-detik kelulusan ODOP (One Day One Post).  Kalau ditanya aku lulus apa enggak? Aku jawab gak tahu. Soalnya belum ada pengumumannya. Hehe.

Alhamdulillah, sejak Januari bergabung di ODOP aku jadi terbiasa untuk menulis. Ya, setidaknya sehari satu tulisan. Meski pun tulisan yang aku buat itu ala kadarnya, tentu aja masih jauh di bawah para tetua dan teman-teman yang kece lainnya.

Bersamaan dengan tantangan terakhir, entah kenapa tantangan dalam kuliah dan tantangan hidup malah ikut-ikutan nangkring di pundakku. Tetapi, karena itu lah, di hari-hari menju kelulusan ini aku merasa ada kesan yang tak kan terlupakan. 

Suka dan duka datang silih berganti.

Pertama, tantangan bikin cerbung (cerita bersambung) sebanyak 10 episode. Duhai, cerbungku di awal aja belum sempat rampung. Masih mentok di part 5. Lah ini, suruh bikin baru, 10 pula. Alamak, sampai-sampai di awal aku merasa ragu untuk menyelesaikan tantangan ini. But, dukungan dari teman-teman yang tak pernah absen menyuarakan kata ‘semangat’ dan ‘pasti bisa’ membuat keyakinan dalam diri tegak kembali. Terima kasih teman-teman dan para pije di Mars. Sayang deh sama kalian.

Ke dua, dapat kabar dari saudara jauh kalau beliau sekeluarga berangkat ke tanah suci. Barakallah. Semoga dilancarkan perjalanannya. Tetapi, malam harinya, kabar duka menyusul. Saudara dari kakak sepupu, dikabarkan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Innalillahi. Kabarnya tiba jam 10 malam. Dan di jam 12, satu keluarga bergegas takziah menuju Jawa Timur.

Ke tiga, esok harinya aku mendapat musibah. kesrempet motor dan karena sama-sama kehilangan keseimbangan, akhirnya aku tertimpa motor tersebut beserta seorang bapak paruh baya yang mengendarainya. Sungguh berat. Tetapi, alhamdulillah tidak ada luka di badan, yang ada luka di hati. Dan baru kusadari esoknya, setengah badanku mendadak terasa remuk. Pegal semua. Hanya setengah saja. bagian kanan, bagian yang tertindih motor kemarin lusa. Dari kepala sampai kaki.

Ke empat, hari Rabu, ketika usai kuliah aku dan temanku hendak ke kampus satu. Tetapi, entah pikiranku sedang blank atau kenapa, aku malah membelokkan motor ke perpustakaan daerah. Ketika hendak parkir, aku malah ketimpa motorku sendiri. Ambruk. Karena jalan menuju parkiran itu sedikit menukik. Sakit sekali. Malamnya kutemukan lebam ungu di lutut.

Ke lima, ide menulis tiba-tiba buntu. Sempat beberapa hari tidak menulis. Hal ini sih terasa wajar. Tetapi, biasanya bisa diatasi dengan menulis puisi atau menulis curahan hati. Namun berhubung tantangannya adalah cerbung. Jadilah aku mandeg di tempat.

Ke enam, bersamaan dengan hutang menulis. Acara organisasi terasa padat. Harus pergi ke sana ke mari. Kuakui itu sangat melelahkan. Menyita banyak tenaga, waktu, pikiran, serta uang (untuk beli bensin. Hahaha). Alhasil, malam hari si tubuh langsung tepar. Padahal sebelumnya sudah berniat akan begadang. Huhft!

Ke tujuh, selain padatnya acara organisasi. Tugas presentasi kuliah ikut-ikutan bikin rusuh. Tiga mata kuliah presentasi berturut-turut dalam satu minggu. Presentasinya sih it’s okay wae, tetapi yang bikin geregetan itu susahnya mencari buku referensi untuk dibuat makalah.

Ke delapan, alhamdulillah. Hasil gaji dari bimbingan belajar selama satu bulan setengah yang lalu cukup memuaskan. Dan dapat tawaran baru lagi.

Ke sembilan, Jum’atnya ketika pulang ngelesi hujan rintik-rintik. Jalanan gelap. Motoran di jalan raya gak berani buat ngebut-ngebut, pelan ... banget. Spionnya susah mendeteksi kendaraan yang ada di belakang. Karena rintik-rintik dari langit membuat layarnya kabur. Udah gitu, lampu motor yang datang dari depan amat silau ketika ditangkap oleh retina. Apalagi sewaktu melewati hutan karet yang lumayan panjang langit semakin gelap. Sepi pula. Tapi ya itu, aku gak berani ngebut. Berhubung cahaya di sekitar remang-remang, mataku harus benar-benar fokus melihat. Karena itu  aku berkendara hati-hati .. banget. Biarlah, aku pasrah atas segala kemungkinan yang terjadi. Yang penting aku bisa selamat sampai rumah.

Dan yang terpenting, alhamdulillah bisa menyelesaikan tantangan di tengah kesibukan yang super ini. Hihi... Yey..... rasanya lega banget. Dan pengalaman ini sangat-sangat berkesan.
Yeah, kenapa aku curahkan semua ini di blog? Karena kuyakin yang mampir ke sini bukan orang sembarangan. Tetapi orang-orang yang perhatian. Karena mau meluangkan waktunya untuk sekedar membaca tulisan yang jauh dari kata faedah ini. Hehe...

Blog itu bukan kaya history di WA atau pun status di beranda FB, yang mudah banget terakses oleh jutaan orang. Dan kita bisa tahu siapa saja yang sudah melihat status kita. Sedangkan di blog, kalau pembaca tidak meninggalkan komentar, penulis gak bakal bisa tahu siapa saja yang sudah menyempatkan diri untuk mampir. (Sok jadi misterus :P)

Jadi, kamu yang membaca tulisan ini aku anggap sebagai orang spesial. Wkwkwwk... Sekali lagi, terima kasih sudah mau membaca ocehan gadis ini. 

*********
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5




Tips Memperbaiki Niat Dalam Mencari Ilmu



Hasil gambar untuk ilustrasi mencari ilmu
Hai..! Hai..! Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Beberapa hari tidak berjumpa dengan saya, berharap para pembaca merindukan awak (ngarep sangat).

Ah ya, maklum si Gadis belum bisa membagi waktu denganbaik. Jadilah keteteran, jadwalnya tabrak-tabrakan dan fatalnya berakibat banyak pekerjaan yang tidak selesai. Hahaha.... Ini sangat menyebalkan sekali. Mau nangis, apalagi dua minggu ini kan penentuan kelulusan ODOP. Ah! cobaan dan tantangan yang perlu saya takhlukkan.

Sebenarnya tulisan ini sudah ingin saya curahkan sejak hari Jum’at. Tetapi berhubung saya kelelahan jadilah tepar hingga pagi menjelang. Huhft!

Ah ya, saya ingin membagi sedikit kisah ketika mengikuti pembelajaran Qiro’atul Kutub yang jadwalnya adalah setiap hari Jum’at. Alhamdulillah, cara dosen pengampu mata kuliah ini dalam menyampaikan materi sungguh ngena banget. Bagiku sangat berkesan. Meninggalkan bekas pengetahuan yang semoga dapat saya amalkan dan bermanfaat bagi semua pembaca tulisan ini.

Ulasan yang ini berisi tentang pertanyaan yang saya ajukan. Kebetulan hari itu sedang membahas bab Niat Ketika Menuntut Ilmu, dalam kitab Ta’lim Muta’alim. Pertanyaannya ialah: “Bagaimana cara menanamkan niat yang baik (mencari keridhaan Allah SWT semata) dalam diri seorang pelajar ketika menuntut ilmu, di mana fenomena saat ini banyak pelajar yang niat belajar hanya karena ingin mendapatkan nilai yang sempurna. Bahkan beberapa di antaranya menghalalkan berbagai cara demi meraih hal tersebut?”

            Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Pak Dosen. Beliau memberi tips kepada kami untuk pertanyaan saya di atas. Tips tersebut ialah kita harus mendzohirkan keridhaan Allah dengan mencari ridho orang tua. bagaimana caranya? 

Misalnya ketika kita belajar kita harus ingat kembali bahwa keberadaan kita di dalam kelas ini adalah salah satunya berkat jerih payah orang tua di rumah yang mengumpulkan receh demi receh untuk memenuhi segala kebutuhan yang kita perlukan. 

Semisal orangtua Anda berprofesi sebagai petani, demi mengais rezeki dan mencukupi kehidupan keluarga mereka rela berpanas-panasan, hujan-hujanan, hingga kulitnya menghitam, permukaan tangan tak lagi halus, permukaan kaki sudah seperti tanah yang retak akibat kering kerontang. Apakah kita akan tega melakukan cara-cara yang haram demi meraih nilai sempurna dan mengantongi banyak pujian manusia? Atau barangkali demi masuk sekolah favorit impian kita? Atau mendapat pekerjaan yang mapan?

Sungguh percuma jika kenikmatan-kenikmatan atau impian-impian ita terwujud namun proses yang kita lalui adalah sebuah hal yang tidak disukai Allah SWT. Dan jika kedua orangtua tahu, tak diragukan lagi pasti mereka pun akan turut kecewa.

Maka dari itu, tips yang ke dua adalah menata niat dengan tidak mengorientasikan hasil, tetapi harus mengorientasikan proses dalam mencapai sesuatu. Usahakan semua amal kita niatkan untuk mencari ridho Allah SWT, prosesnya dengan mencari ridho kedua orangtua. Sebagaimana hadist nabi yang berbunyi:



وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:  رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ  (

“Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.” 

            Pesan saya, tetap semangat ya mencari ilmu. Luruskan niat kita. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk godaan syaiton yang terkutuk. Aamiin allahumma aamiin. Semoga sedikit ulasan yang saya berikan dapat memberi manfaat bagi teman-teman semua. Sekian, sampai jumpa kembali di tulisan berikutnya. :)

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Jika tidak mendapat ridho orantua, jangan harap bisa mencium bau surga!