Sederhana Saja_Part 9



            “Sudahlah. Jangan memasang ekspresi seperti itu, tambah jelek tahu!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Yasmin.

            Sontak Yasmin langsung menghapus ekspresi yang ia buat-buat sebelumnya.

            “Terima saja kalau memang telat. Takdir Tuhan,” kata cowo di sampingnya dengan nada santai.

            Yasmin mendelik kesal ke arah Bintang. Memang apa salahnya? Ia kan Cuma berusaha. Udah gitu pakai ngejek segala. 

Andaikan Yasmin bawa kaca, ia ingin memastikan apakah actingnya tadi itu benar-benar menjadikan wajahnya semakin terlihat jelek. 

“Kenapa merhatiin Gue gitu amat? Gue ganteng yak?” 

Yasmin hampir tersedak. Apa katanya? Ganteng? Iya sih, emang. Tapi tadi ia bukan memperhatikan Bintang karena terpesona, akan tetapi karena sebal. Wajah santai yang mengatakan kata-kata yang selalu benar itu sungguh membuat hati Yasmin bertambah dongkol. Kok bisa-bisanya dia tidak merasa khawatir, cemas, takut, gelisah, sedikit pun. Apakah ia lupa kalau telat dapat berpengaruh terhadap nilai raport di akhir semester?

“Udahlah, gak usah dipikirin. Telat satu kali doang. Paling-paling dapat ranking terakhir. Hahaha,” kata Bintang. Seakan ia bisa mendengar celotehan dalam hati dan pikiran Yasmin.

Yasmin menunduk. Dari dulu, ia kan memang selalu mendapat peringkat terakhir.

Bintang yang melihat hal tersebut segera sadar bahwa apa yang ia ucapkan telah menyakiti hati gadis yang berada di sampingnya.

“Sorry, Gue gak bermaksud.” 

Yasmin tak menjawab. Buat apa? lagi pula memang itu kenyataan. Mau mengelak? Membela diri? Itu tambah tidak mungkin.

“Aww,” tiba-tiba Yasmin merintih kesakitan. Tangannya mencengkram perut yang mendadak seperti ditusuk-tusuk jarum.

Bintan mengerutkan dahi. 

Kenapa pula gadis ini? Jangan-jangan dia Cuma acting.”  Pikir Bintang.

‘Braaak!’

Ternyata dugaan Bintang meleset. Gadis itu tiba-tiba tumbang. Tapi, jangan-jangan ini Cuma trik cewe ini agar bisa diizinkan masuk ke sekolah?

            Bintang yang tadinya sedikit shick, kembali berlagak tidak peduli. Menyenderkan punggungnya ke tembok sambil mengulum permen kaki kesukaannya. Perempuan kan begitu, kebanyakan nonton drama. Jadi pintar actingnya.

            “Hoi! Jangan drama deh Lu!” selang dua menit melihat Yasmin kaku tidak bergerak, Bintang mencoba mengguncangkan bahu Yasmin dengan ujung sepatunya.

            Tidak ada respon.

           Beberapa tukang penjaja makanan di depan sekolah, satu dua mulai mencuri-curi pandangan ke arah mereka. Seorang Ibu yang tak sengaja berlalu di seberang jalan sempat menggelengkan kepala ketika menyaksikan tingkah Bintang yang tidak beradab itu.

            “Eh, Lu jangan main-main deh! Bangun!” kembali Bintang menendang-nendang pelan sepatu tali yang dikenakan Yasmin. 

            Tetapi, lagi-lagi tidak ada respon apa pun.

            Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Bintang.

            “Pak Joy! Bukain gerbangnya! Ada yang PINGSAN!” teriak Bintang sekeras mungkin agar suaranya bisa mengalahkan musik yang sedang di setel di pos jaga satpam.

***********************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar