Sederhana Saja_Part 8



https://i.pinimg.com/236x/35/17/5a/35175afee59c3cf9d606051c149666c8--hashtag-hijab-muslim-women.jpg
            “Kak! Bangun!” sudah berulangkali Giselle mengguncang-guncangkan tubuh kakaknya, tapi Kak Yas masih saja tidak bergeming. 

            “Huhft!” lama-lama kenapa Giselle yang jadi capek sendiri? Padahal semalam ia baru tidur 30 menit menjelang adzan Subuh.

            “Kak Yas! Bangun. Sudah hampir jam tujuh. Nanti Kakak terlambat loh,” Giselle menghempaskan punggungnya di atas kasur. Menguap lebar.

            “Apa? hampir jam tujuh? Ah, Gisell! Kok tidak bangunin dari tadi sih. Sholat Subuhnya, juga udah lewat?” Yasmin terkesiap. Tiba-tiba tubuhnya muncul dari balik selimut dengan posisi duduk.

            “Udah dari tadi Kak, Gisell bangunin Kak Yas. Tapi emang dasar Kak Yas yang kebo. Lagi pula-” gerutu Giselle.

            Sebelum Giselle menyelesaikan kalimatnya, Yasmin sudah menghambur pergi meninggalkannya.

            “Lagi pula suruh siapa semalam minta Gisell untuk bercerita.”

            Yasmin keluar dari kamar mandi ketika jam di dinding nyaris menunjukkan waktu pukul tujuh tepat. Saking buru-buru, ia sampai tidak sempat mandi. Hanya gosok gigi dan cuci muka.

            Untung Giselle sudah tidur. Mendengkur sambil memeluk boneka Tedy Bear berwarna biru setinggi 100 meter. Kalau saja ia masih melek, bisa-bisa urusannya panjang melebar tak terkendali.

            Dengan kecepatan kilat ia mengenakan seragam dan menata barang-barang yang harus ia bawa. Kemudian berlari-lari kecil keluar kamar dan menuruni anak tangga.

            “Kak, kamu mau ke sekolah?” Mimi yang tengah membereskan meja makan menoleh, melihat anak gadisnya tergesa-gesa menuruni tangga.

            “Eh, iya Mi,” jawab Yasmin.

            “Mau sarapan dulu? Biar Mimi siapkan dulu.”

            “Gak usah Mi. Yas sudah telat. Yas berangkat dulu ya Mi,” Yasmin langsung menyambar tangan kanan Miminya. Menciumnya penuh penghormatan.

            “Yas? Gak diantar dengan Cang Burhan?”

            “Gak Mi. Yas naik sepeda saja. Lagi pula jam segini jalanan sudah macet. Pakai mobil tidak akan efisien,” Yasmin yang sudah berada di teras rumah menjawab dengan setengah berteriak.

**************
            Di perjalanan, Yasmin dengan gesit mengayun pedal sepedanya, menyalip serta menyempil di antara ratusan kendaraan yang padat merayap. Alhasil tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sekolah.

            Namun, sia-sia. Gerbang sekolah itu tak lagi terbuka untuknya. Baru saja, Pak Satpam berlalu pergi dengan kunci di tangan. 

            “Pak! Tunggu! Izinkan saya masuk!” Yasmin berteriak, mencoba menghentikan langkah satpam itu.

            Satpam itu membalikkan badan. Melirik jam hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. “Ini sudah terlalu telat Dek,” jawabnya dengan ekspresi datar.

            “Tapi Pak, saya mohon untuk kali ini saja,” Yasmin mengiba dengan memasang tampang melas. Berharap dengan cara itu satpam itu memberi rasa belas kasihan.

            Satpam itu tak peduli. Mengibaskan tangannya ke udara, membalikkan badan dan kembali melanjutkan langkah.

            “Pak...!” 

            “Sudahlah. Jangan memasang ekspresi seperti itu, tambah jelek tahu!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Yasmin.

**************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar