Sederhana Saja_Part 7



https://i.pinimg.com/236x/35/17/5a/35175afee59c3cf9d606051c149666c8--hashtag-hijab-muslim-women.jpg
            “Giselle! Oh Tuhan, sungguhkah ini adalah Giselle? Adik tercantik yang pernah kumiliki?” pekik Yasmin secara spontan saat mendapati di kamarnya ada gadis berkepang dua yang tengah duduk di meja rias.

            Giselle tersenyum lebar. Sedikit terkejut karena kakaknya muncul secar tiba-tiba.

            Dua remaja tanggung itu masih dalam posisinya masing-masing, mereka saling bersitatap melalui bayangan yang dipantulkan kaca rias. 

Menumpahkan segala kerinduan yang tak dapat diungkap dengan kata-kata.

            Ruangan itu lengang beberapa saat. Menyisakan deru mesin pendingin yang sedang bekerja.

            Akhirnya Giselle membuka percakapan. “Ayolah! Kakak tidak ingin memeluk adik tercantiknya ini?” ia memanyunkan bibir.

            Tanpa perlu menjawab, Yasmin langsung menyambar Giselle. Gadis berkepang dua yang menjadi ciri khas darinya itu dipeluk dengan Yasmin teramat erat. Tetapi saking overnya Giselle sampai meronta-ronta minta dilepaskan. Dadanya sesak, kesulitan bernapas.

            “Aduh Kak Yas. Kamu itu rindu atau ingin membunuhku?” 

            Yasmin tertawa, “Salah siapa pergi jauh-jauh? Heh?!”

******************
            Malam ini Yasmin tak lagi tidur berteman sepi, ada Giselle. Saking cerewetnya Yasmin jadi susah sekali untuk merapatkan matanya. Padahal ia lelah sekali, setelah seharian tadi latihan Paskibra yang memerasa banyak tenaga dari hari biasanya. Wajarlah, hanya tersisa 9 hari lagi, sebelum negara Indonesia ini genap berusia 64 tahun.

            “Kak Yas! Jangan tidur!” 

            Yasmin tersenyum, “Siapa yang tidur. Kakak dengerin kamu cerita kok,” terpaksa Yasmin berbohong.

            Giselle terlalu bersemangat menceritakan rangkaian demi rangkaian peristiwa yang ia lalui. Yasmin tak sampai hati untuk mengatakan bahwa ia ngantuk sekali. 

            “Kak...,” rengek Giselle (entah sudah ke berapa kalinya melakukan hal yang ini) sembari mengguncang-guncangkan pundak Yasmin.

            “Apa dek?” Yasmin menyahuti dengan suara yang amat lemah. Kini matanya sudah tak lagi bisa diajak kompromi.

            “Aku belum selesai ceritanya, Kak Yas.
            “Hmmm...”

            “Kak Yas gak asik ah!”

            “Sekarang juga bukan waktu yang asik Giselle,” balas Yasmin sembari menarik selimut bermotif mawar berwarna biru hingga tubuhnya tertutup sempurna.

            “Yaah, Kak Yas maaaah...”

            “Hmmmm,” jawab Yasmin. Yang mana jawaban itu malah lebih pantas dikatakan seperti dengungan lebah.

            Giselle mengerucutkan kedua bibirnya. Padahal kan ia baru saja ingin menceritakan tentang bagian sosok lelaki yang amat ia kagumi kepribadiannya. Lelaki yang katanya saat ini juga tengah berdomisili di kota yang sama ia jejakki saat ini.

            Tetapi, ya sudahlah. Mungkin besok bisa disambung lagi. Lagi pula Kak Yas benar, ini sudah terlalu larut. Besok kan Ka Yas sekolah, kalau sampai terlambat nanti ia lagi yang disalahkan. 

Singkirkan keegoisanmu sejenak Gisel!

***********************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar