Sederhana Saja_Part 6



https://i.pinimg.com/236x/35/17/5a/35175afee59c3cf9d606051c149666c8--hashtag-hijab-muslim-women.jpg
            “Drrrtt...! Drrrtt...!” gawai Bintang di saku terasa bergetar. Ia yang tengah asyik bercerita di depan murid-muridnya jadi merasa serba salah. Angkat atau tidak?

            Murid-murid yang mayoritas berpakaian lusuh itu tampak bengong memperhatikan gurunya yang mendadak raut wajahnya kebingungan.

            “Eh, sebentar ya. Cerita tentang nabi Yusufnya dihentikan dulu, Kakak izin angkat telpon,” Bintang nyengir kuda, menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.

            Anak-anak yang jumlahnya sekitar 20-an itu meng-iyakan dengan anggukan yang serempak.

            Kemudian Bintang berjalan menjauh. Ia menuju sebuah bangku yang di sudut taman. 

            Begitu mendapati nama Tari di layar gawainya, seketika matanya membulat. Hei? ini beneran Tari yang nelpon?

            Bintang mengucek-ucek ke dua matanya. Barangkali ia salah baca. 

            Eh? Tapi ternyata itu memang benar, T-A-R-I. Tetapi, apakah Tari benar-benar sedang benar-benar berminat untuk menelponnya? Astaga! Selama tiga tahun ia berteman dengan gadis itu mana pernah mereka saling bertelponan. Bukannya Bintang tidak gantle menelpon duluan, tapi Tari selalu menolak. Jangankan menelpon, berkirim pesan saja Tari juga membatasinya. 

            Gambar telepon berwarna hijau yang mulanya bergerak-gerak akhirnya berhenti. Tertinggal telepon berwarna merah di layar.

            Ah, mungkin Tari hanya tidak sengaja memencet tombol ‘panggil’,’ pikir Bintang.

            “Kak! Jangan lama-lama di sini. Ayo lanjutkan ceritanya,” lamunan Bintang buyar begitu terasa ada yang menarik-narik ujung kemejanya yang sengaja tidak dimasukkan ke dalam celana.

            “Ah, maaf ya sayang. Ayo kita lanjutkan ceritanya,” Bintang mengusap lembut kepala Cika, si gadis cilik pemilik rambut keriting yang panjangnya sebahu. Bisa ditebak dari kulitnya yang gelap ia adalah keturunan suku Papua. Tapi entah di mana keberadaan orang tuanya sekarang. Lebih aneh lagi ia terlantar jauh dari tempat asalnya. Ia bertahan hidup sendirian di Ibu Kota yang mayoritas keturunan suku Jawa.

Setelah kembali memasukkan gawai ke dalam saku celana, Bintang menggandeng gadis itu menuju ke tempat semula. Sebuah tempat yang dulunya kedai kecil untuk berjualan minuman, yang kini ia rubah menjadi sebuah ruangan yang amat nyaman untuk belajar. Letaknya bersebrangan dengan taman kota. Cukup strategis, tak jarang banyak pengunjung yang berdatangan ke tempat tersebut untuk memberi bantuan dana, menawarkan diri menjadi relawan pengajar, atau sekedar untuk melihat aksi sosial yang Bintang dirikan.

“Kak? Kenapa tidak jual minuman macam dulu lagi? Aku kan pintar bantu Kakak,” tanya gadis yang ada di sebelahnya dengan logat khas suku asalnya.

“Kalau Kakak jualan lagi, nanti kalian belajar di mana?”

“Kami kan bisa saja belajar di kolong jembatan, macam pertama kali kita jumpa itu loh Kak.”

Bintang hanya tersenyum mendengar jawaban gadis tersebut. 

Ah! Itu? Sederhana saja alasannya.

*********************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Rapel_Senin 12 Maret

1 komentar: