Sederhana Saja_Part 5



https://i.pinimg.com/236x/35/17/5a/35175afee59c3cf9d606051c149666c8--hashtag-hijab-muslim-women.jpg
“Hei! berhenti! Dengar tidak sih?” Bintang menggerutu sebal.

“Eh, aku?” Yasmin menoleh ke Bintang yang kini telah berdiri sejajar di sampingnya.

Bintang membuang muka sambil berdecak sebal.

Yasmin malah jadi tambah bingung. Ia menoleh ke kanan-kiri-belakang. Jangan-jangan ia ge-er. Bukan ia yang dimaksud Bintang, tapi orang lain mungkin.

“Heh! Iya Elo! Astaga,” Bintang mendesah. Mengacak-ngacak jambul di kepalanya.

“Oh.”

“Dih, oh doang? Gila ya Lo,” maki Bintang jengkel.

Yasmin mengernyitkan kedua alisnya. Kenapa pula cowok yang ada di hadapannya ini? 

“Komik Gue, disita, itu gara-gara Lo tahu.”

“Kok?” Yasmin semakin kebingungan.

“Tau ah, Lo mah lola banget si jadi cewe,” Bintang jadi tambah geregetan karena sikap polos gadis yang ada di depannya.

Yasmin meringis. Apa yang salahnya coba? Tiba-tiba nyuruh orang berhenti dan dituduh penyebab tragedi penyitaan komik bacaannya.

Bintang jadi salah tingkah. ‘Bodoh! Kenapa ucapan itu sih yang harus keluar dari mulutku? Tujuanku kan bukan itu. 

Lupakan, jangan dibahas lagi. Bintang mengisayaratkan kata-kata itu dengan mengibaskan tangan.

“Lo kenal Tari?” Bintang bertanya dengan menurunkan nada suara dari sebelumnya.

Yasmin terdiam. Mencoba mengingat, apakah ia mempunyai teman, tetangga atau saudara yang bernama ‘Tari’ itu atau tidak.

Bintang dengan setengah sabar menunggu jawaban meluncur dari bibir Yasmin.

Selang dua puluh detik, Yasmin akhirnya menggeleng.

“Oh, yaudah.” 

Ternyata dugaannya salah. Ya sudahlah, mungkin Yasmin yang dimaksud oleh Tari berada di kelas lain.

Untuk menegaskan Yasmin mengangguk-angguk.

Sedangkan Bintang yang sudah merasa puas dengan jawaban tersebut langsung berbalik badan, melanjutkan tujuan awalnya, ke kantin tanpa perlu mengucapkan sepatah kata apa pun (lagi) kepada gadis yang ia kejar-kejar tadi.

***********
Malam semakin larut, hujan deras yang sejak sore membasahi pertiwi perlahan mereda. Menyisakan rerintik kecil. Di mana semua orang lebih memilih memeluk guling dan membelut diri dengan selimut, Yasmin malah asyik membaca novel di meja belajar.

Yeah, begitulah ia. Kalau novel sudah berada di genggamannya, dunia ini seakan hanya miliknya seorang. Tak peduli sudah seberapa dingin makanan di sampingnya, tak peduli sudah seberapa gelap langit di luar sana dan tak peduli seberapa lelahnya ia usai belajar untuk persiapan ulangan esok hari. Yang jelas, baginya novel adalah dunia ke dua. Dunia yang tak mengenal kata waktu, lapar, haus, atau pun lelah di dalam kamusnya.

“Drrrt....!” Yasmin terperanjat kaget, mendapati ponsel dalam saku celananya bergetar. 

Ah! Paling-paling operator yang mengiriminya pesan. Orang yang paling perhatian setelah keluarganya. Pagi, siang, sore, malam, rutin mengirim pesan.’

Namun, setelah ia mengecek kebenaran atas terkaannya, senyum serupa bulan Sabit menggantung di bibirnya. Matanya berbinar-binar dan rona wajahnya penuh kebahagiaan.

*********************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Rapel_Minggu, 12 Maret

1 komentar:

  1. Haaa... Bintang.
    Hmmm... penasaran, apa ya yang membuat Yasmin begitu bahagia?

    BalasHapus