Sederhana Saja_Part 2



Hasil gambar untuk gambar org kartun cowo cewe berhijab jalan beriringan
            Hari selasa tiba.

pelajar kelas 10 A hari ini harus mulai untuk membiasakan diri dengan suasana pembelajaran yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan. Mereka diharuskan berada dalam posisi siap belajar sejak lima menit sebelum bel pelajaran pertama dibunyikan. Mereka nampak duduk manis di bangku masing-masing dengan lay out persegi panjang yang dibagi menjadi dua. Antara pelajar laki-laki dan perempuan pisah kelompok. Tak lupa, peralatan tulis (lengkap) mereka letakkan di atas meja coklat yang penuh dengan hasil kreatifitas penghuninya.

            “Teng-Tong-Teng-Tong! Teng-Tong-Tong-Teng! Pelajaran pertama akan segerq dimulai. Kepada seluruhnya harap segera masuk ke kelas masing-masing!”

Begitu mendengar bel yang lebih mirip seperti bel stasiun kereta api, atmosfer di ruang kelas 10 A berubah seketika. Partikel-partikel yang mengambang di udara serasa mencekik leher-leher penghuni di dalamnya. Melukiskan kepiasan pada wajah-wajah yang ada.

Semuanya. Terkecuali dia, siswa laki-laki yang selalu memilih bangku pojok dekat jendela. Singgasana yang tidak diperbolehkan untuk ditempati kecuali dirinya. Ekspresi wajahnya sangat berbeda, santai sesantai penikmat panorama pantai. 

Yang lain tengah sibuk membaca buku pelajaran yang nanti akan mereka hadapi, bahkan satu dua menghafal isinya. Satu dua sibuk mencari pertanyaan apa yang pantas untuk ditanyakan. Satu dua lagi hanya berpura-pura membaca, membolak-balik isi buku tanpa peduli apa yang tertulis di dalamnya. Dan... bermacam kegiatan lainnya.

Ah! Lagi-lagi terkecuali dia. Laki-laki bangku pojok itu memang benar sih sedang membaca, sebagaimana yang dilakukan para pelajar di kelasnya. Tetapi, benda yang di tangannya itu ukurannya lebih kecil, seperdua dari benda-benda yang tengah dipelototi lainnya. Membuka lembar demi lembar benda tersebut dengan cepat, sesekali tertawa. 

“Hoi! Cepat, sembunyikan komikmu Bintang!” Alga si ketua kelas sekaligus sahabat dari laki-laki itu, entah sudah keberapa kalinya ia memperingatkan BIntang agar menyembunyikan benda terlarang yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk dibawa ke sekolah. Tetapi, apa daya, usahanya dimasabodokan. Bagaikan desau angin yang tak perlu dihiraukan.

            “Cetok! Cetok! Cetok!” 

Tiba-tiba derap sepatu yang teramat nyaring bunyinya itu semakin mendekat. Seisi kelas 10 A tau siapa empunya. Sosok guru yang tengah dinanti, tapi juga tak diharapkan kehadirannya. 

Jika terbayang sosoknya, memori mereka berputar kembali kepada rentetan aturan yang ditetapkan olehnya pada minggu lalu. Suka atau tidak, mau atau tidak mau, mereka terpaksa harus menyetujuinya. Tentang aturan pembelajaran yang sistemnya disetarakan dengan pembelajaran di bangku kuliah. Katanya, supaya kalian terbiasa, tidak terkaget-kaget ketika memasuki era perkuliahan, mental keberaniannya terbentuk matang, dan masih banyak lagi manfaat mengenai sistem ini yang beliau paparkan. Padahalkan mereka ini masih kelas 10, baru saja meninggalkan bangku Tsanawiyah.

Bintang menghela napas berat.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”

Bersamaan mengudaranya salam dari lisan wanita berbadan besar yang baru saja tiba di kelas, resleting ransel Bintang sempurna tertutup. 

******************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Tantangan (2)

8 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Bintang, pinjam komiknya dong ;-)
    Next ^_^

    BalasHapus
  3. Kayak guru bahasa Inggris di SMA ku dulu..
    Sorim kata temen2.. 😂

    BalasHapus
  4. Hahaha... sama bgt 😅 tutup komik kalo guru udah deket kelas 😆

    BalasHapus
  5. Hehehehe, kebiasaan bawa komik ke sekolah udah langganan anak sekolah dari generasi ke generasi😂😂😂

    BalasHapus