Sederhana Saja_part 13



            Tari terisak di bangku panjang yang letaknya paling ujung. Sengaja. Pohon besar nan rindang berdiri kokoh di baliknya. Ia pikir itulah tempat terbaik untuk menumpahkan segala rasa yang sejak lama ia tahan dalam dada.

            Tari membenamkan wajahnya dalam-dalam, kupluk jaket itu masih menutupi rambut cokelat yang rapi dikepang dua.

            “Kupluk menyebalkan! Harusnya tadi aku membukanya. Pasti ia dengan cepat mudah mengenaliku,” dengan sebal Tari menarik kupluk jaketnya. 

            “Untukmu,” sebuah sapu tangan tiba-tiba terulur dari tangan asing.

            Tari mendongak dengan sisa-sisa air mata yang masih menggelayut di kelopak matanya.

            Tanpa sadar tangan kanannya meraih sapu tangan tersebut (tanpa melihat jelas rupa dari sang pemberi).

            “Eh, kau gadis yang tadi kan? Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang, tidak baik anak gadis secantik dirimu masih berkeliaran di luar rumah,” Bintang mengambil posisi duduk di sebelah Tari.

            ‘Gadis yang tadi?’ Tari mencoba mencerna kalimat yang baru saja dituturkan oleh orang asing di sampingnya. Perlahan ia menoleh, mencuri-curi pandang.

            ‘Deg!’ Bintang? astaga! Ya Tuhan, kenapa harus dia?
 
            Tanpa aba-aba detak jantung Tari berubah tidak stabil iramanya.

            “A-a-aku harus pergi. Permisi,” dengan terbata-bata Tari beranjak dari bangku panjang, berlalu begitu saja tanpa terlebih dahulu menunggu jawaban dari Bintang.

*********
            Sudah lima menit Tari berjalan tanpa arah. Hanya lurus mengikuti jalanan aspal yang entah di mana ujungnya. Terlebih lagi ia tidak mengenal baik kota yang baru saja beberapa hari lalu disinggahi. Jika nanti tersesat? Siapa peduli. Yang penting jika nanti waktunya ia ingin pulang, ia akan coba bertanya kepada orang yang ia temui. Gampang kan? Atau, lebih simple lagi ia tinggal minta bantuan google maps

            Yang terpenting, saat ini ia sedang ingin menenangkan pikiran serta hatinya. ‘Jalan-jalan’ kata sebagian orang, bisa menjadi salah satu solusi terbaik dalam urusan ini.

            Sepuluh menit Tari berjalan. Terdengar adzan Maghrib dikumandangkan, suara itu sepertinya berasal dari sebuah masjid atau mushola yang letaknya tidak jauh dari posisi Tari saat ini.

            Benar saja, setelah sepuluh melangkah, segerombolan ibu-ibu dengan atasan mukena, bapak-bapak yang di pundaknya tersampir sarung kotak-kotak, dan beberapa anak kecil berlarian di antaranya berjalan melewati Tari dari arah berlawanan. Rupanya mereka masuk ke sebuah gang yang letaknya hanya berjarak beberapa langkah di belakang Tari.

            “Pak! Jaga matamu!” salah satu ibu paruh baya menegur suaminya yang ketahuan melirik-lirik Tari dengan tatapan terpesona.

            Tari yang menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian di kala itu, langsung kembali mengenakan kupluknya kembali dan merapatkan jaket. 

***********

#Lama-lama kayaknya makin kacau deh ini cerita. Wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar