Sederhana Saja_part 12



            “Kenapa berhenti?” tanya Bintang saat Yasmin menghentikan langkahnya secara mendadak.

            “Harusnya aku yang bertanya,” jawab Yasmin geram.

            “Apa?”

            “Kenapa dari tadi mengikutiku? Bukankah arah jalan ke rumahmu belok ke kanan sana? Kenapa ikut-ikut belok ke kiri?”

            Bintang menghela napas, “Karena kamu sudah menjadi tanggung jawabku.”

            Kedua alis Yasmin terangkat, “Maksudmu?” Hih, tanggung jawab? Memang dipikir aku ini istri sahnya apa?

            “Jangan berpikiran buruk,” kata Bintang, seakan menyanggah kata-kata yang terucap dalam hati Yasmin.

            “Tadi dokter hanya berpesan agar aku menjagamu. Takut mendadak pingsan lagi di jalan,” lanjutnya dengan nada santai.

            “Oh. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa,” Yasmin melipat kedua tangan ke depan dada.

            “Kan sekarang, gak tahu nanti?”

            Yasmin mendengus sebal. “Aku bisa pulang sendiri tahu.”

            “Ya, kamu memang berpikir bisa. Tetapi, kita kan tidak dapat menyangka apa yang akan terjadi nanti. Sudahlah, aku hanya ingin mengantarmu. Memang salah? Lagi pula tidak baik anak perempuan jalan sendirian.”

            Tau ah! Yasmin tidak menanggapi perkataan Bintang, ia melanjutkan langkahnya menuju tepi jalan raya.

**************
            “Sudah sampai,” begitu kata Yasmin seusai turun dari angkot yang ia tumpangi (bersama Bintang).

            “Aku tahu,” Bintang mengangguk, menyusul turun.

            “Ya sudah, aku kan sudah sampai-dengan-selamat,” tutur Yasmin dengan memberi penekanan pada beberapa kata.

            Bintang mengangguk (lagi).

            “Ya sudah, pergilah!”

            “Oke. Aku pamit. Jaga kesehatanmu,” Bintang berpesan sebelum melangkah pergi.

            “Hih! Dasar sok peduli,” umpat Yasmin dengan sedikit membesarkan volume, sengaja agar dapat didengar oleh Bintang yang sudah berjarak tujuh langkah.

            “Siapa Kak?” tiba-tiba Giselle sudah muncul dari balik pagar.

            “Tuh,” tunjuk Yasmin ke arah laki-laki yang kini telah masuk ke dalam angkot.

            “Laki-laki?” Giselle memastikan karena kebetulan setelah Bintang masuk ke dalam angkot berwarna biru, ada seorang perempuan yang menyusul masuk.

            “hu-um,” jawab Yasmin disertai anggukan.

            “Yaaah...”

            “Kok ‘yaaah’?”

            “Sayang ya Kak, aku hanya lihat punggungnya doang. Coba aja aku bisa lihat wajahnya.”

            “Harusnya kamu bersyukur dek. Nanti kalau kamu tahu wajahnya seperti apa, bakalan menyesal,” jelas Yasmin yang kemudian ia berlalu pergi.

            “Loh? Emang orangnya jelek Kak?” Giselle setengah berteriak, menatap ke segala arah sebelum menutup pagar.

            “Gak juga sih,” jawab Yasmin dari depan teras (sedang melepas tali sepatu).

            “Loh, berarti ganteng dong Kak? Macam aktor-aktor di TV gak? Kan biasanya tokoh menyebalkan itu ganteng-ganteng?”

            “Udah ah Dek, kenapa jadi membahas dia sih?”

            “Membahas siapa Kak?” tanya Bunda yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

            “Kak Yasmin sudah punya pacar Bun!” celetuk Giselle.

            “Hush! Enak saja!”
******************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar