Sederhana Saja_Part 11



            Pembelajaran sore itu berakhir. Anak-anak yang berpenampilan ala kadar di hadapan Bintang pun mulai beranjak satu per satu dari duduknya. Berbaris rapi, Bintang menyalami mereka sambil memberi kresek berisi sekotak nasi untuk dibawa pulang. Bita mengomando kawan-kawannya agar tidak berebut satu sama lain.

            Hingga akhirnya, di ruangan itu hanya tersisa Bintang dan Bita, gadis mungil dari suku Papua.

            “Kak, aku pamit juga ya. Terima kasih untuk makan malamnya,” Bita meraih tangan kanan Bintang, menempelkan pada dahinya.

            Bintang tersenyum sambil mengangguk kecil.

            Setelah anggukan Bintang sempurna, Bita melangkah keluar.

            Waktu menunjukkan pukul 17.23. Ia juga harus segera bergegas untuk pulang ke rumah. Sebelum orang tuanya tiba lebih dulu darinya. 

Sebelum memadamkan lampu, ia selalu memastikan jendela-jendela di ruangan tersebut sudah tertutup rapat. Setelah dirasa semuanya cukup aman, maka Bintang menuju pintu keluar.

            “Tadi itu keren.”

            Saat tangan Bintang hendak memutar kunci, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang muncul di sampingnya secara tiba-tiba.

            “Eh? Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Bintang menarik kunci dari slop pintu.

            Gadis itu terdiam. Pandangannya justru lurus menatap bola mata Bintang. Seperti menemukan sesuatu yang sekian lama ia cari.

            “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Bintang berkata sekali lagi.

            “Ah! Tidak, tidak ada. Saya hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat ...”

            “Baiklah, saya izin untuk pergi kalau begitu.” 

            Gadis berbola mata cokelat itu mengangguk kaku. Silahkan.

***********
            ‘Eh? Maaf, ada yang bisa saya bantu?’ kalimat itu terus terngiang di telinga Tari. Sejak kata-kata itu meluncur, dadanya terasa sesak. Seperti ada sebuah benda besar yang menyumbat di sana, akibatnya Tari kesulitan untuk bernapas.

            Iya benda besar itu ialah sebuah beban. Beban yang tak lain lagi bernama rindu. Rindu yang sudah menggunung, nyaris tak terbendung. 

Namun apa daya, saat ia ingin meluapkan, menumpahkan rindu tersebut kepada empunya, malah rasa sakit yang ia terima.

“Hiks.. Hiks...” Tari terisak kecil. Air di matanya tumpah.

Apakah Bintang tak ingat?  

Rupa Tari saat ini memang jauh berbeda dari sebelumnya. Usai kecelakaan pesawat yang ia alami, bahkan Tari sendiri pun sering mengira bahwa dirinya bukanlah dirinya saat berdiri di depan kaca.

Operasi plastik yang dijalaninya membuat perubahan yang teramat drastis pada wajahnya. Pipinya memang tak lagi sebesar kue bakpao, sekarang menjadi tirus. 

Sejak lahir Tari memang dianugerahi paras yang cantik, tetapi keberhasilan dari operasi yang ia jalani itu ternyata kian menambah pesona yang ada pada dirinya. Bahkan semenjak itu, hampir seluruh siswa laki-laki di sekolah berjuang melakukan banyak cara agar diterima cintanya.

Tetapi, siapa yang peduli. Tari justru risih dengan keadaan tersebut. Ia sungguh tak menginginkannya. Dalam kehidupan ini, Tari hanya menginginkan satu hal. Satu hal yang teramat sederhana. Tetapi, sangat mustahil akan ada seseorang yang dapat mewujudkannya. Termasuk dirinya sendiri. 

***************
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

1 komentar: