Pria Idaman Bunda_Part 5




((Part 5))
            Di tengah percakapan antara bunda, Abah Rama dan Faiz, pikiran Shakila malah sibuk seorang diri. Memorinya berputar, menayangkan kembali kisah yang pernah dilaluinya di pondok ibu kota.

            Faiz. Siapa sih yang tidak mengenalnya. Seluruh santri bahkan sampai petugas-petugas pondok pun tahu. Terlebih lagi Shakila. Ia sangat mengenal Faiz luar-dalam. Kebaikan juga kebusukannya.

            Saat semua orang mengagum-ngagumkan pasangan Faiz-Amira. Shakila justru selalu membantah, secara terang-terangan menunjukkan kebencian. Menurutnya romantisme yang diperlihatkan Faiz untuk menakhlukkan hati Amira itu palsu. Semua orang terlalu mudah percaya dengan kata-kata manis, sok puitis, sok agamis, dan sok-sok lainnya. Bahkan seharusnya dari penampilannya mereka harusnya tahu. Faiz bukan lelaki baik-baik. 

Ah, tetapi entahlah. Satu lawan seribu mana mungkin bisa menang. Shakila sudah lelah beradu argumen dengan ratusan penggemar Faiz dan Amira, sahabatnya. Fansnya tidak hanya dari kalangan santri. Bahkan seluruh civitas pondok telah dibutakan oleh tabi’at manisnya. Bahkan Abah Rama dan Umi Mia turut memberi dukungan.

Tuhan, Kila sudah tidak kuat menanggung rahasia ini seorang diri. Kila harus bagaimana?

*******



Malam itu, pukul 18. 15. Usia melaksanakan sholat Maghrib berjama’ah di masjid, para santri kembali ke asrama masing-masing untuk melanjutkan kegiatan tahfidz. Tak lama setelah itu, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Tidak seperti biasanya. Disusul dengan gelegar petir yang saling bersahutan, sungguh menakutkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Dan disertai pula angin kencang yang membuat bangunan-bangunan kayu di pondok sedikit bergoyang, tidak seimbang.

            Padahal, sejak pagi seluruh santri sibuk mempersiapkan acara penyambutan kerabat Abah Rama yang berasal dari Arabia. Kerabat abah itu sudah tiba sejak Maghrib, rencananya penyambutan dilakukan usai sholat Isya. Karena cuaca tidak memungkinkan terpaksa acara tersebut dibatalkan.

            Asyik. Hal seperti ini rasanya suatu kegembiraan tersendiri bagi santri-santri di pondok. Setidaknya, berkat cuaca buruk ini mereka bisa beristirahat sejenak dari kepenatan yang mendera. Mereka sebenarnya terlalu lelah dengan segala aktivitas pondok yang padat merayap. Dari membuka mata sampai menutup mata selalu dihantui dengan tugas-tugas yang menggunung. Dan malam ini mereka bisa tidur lebih awal, bisa mengobrol lama bersama teman sekamar, atau melakukan aktivitas non formal

            Semua aktivitas, dari hal kecil sampai kepada yang besar dihentikan. Kami semua diperintahkan untuk masuk ke bilik kamar masing-masing. Dilarang untuk keluar.

            Ketika Shakila sedang asyik menikmati cemilan bersama teman-teman satu biliknya, tiba-tiba kegelapan menyergap mereka. Listrik padam. Mau tidak mau topik pembicaraan yang tengah seru dibahas harus terhenti. Pertanda tak ada lagi yang dapat dilakukan selain pergi ke pulau kapuk masing-masing. Berhubung tidak ada yang punya senter pula. 

            “Mir, akhirnya hari ini kita bisa tidur lebih awal. Waktu istirahat yang panjang,” gumam Shakila ketika tiba di ranjangnya yang terletak di atas. Di sebelah kanannya itu ranjang milik Amira.

            Tidak terdengar sahutan dari Amira. Eh, biasanya kan Amira paling exited menjawab apa pun yang dikatakan Shakila. 

Ada apa dengan Amira? Mungkin malam ini dia sedang sakit gigi,” batin Shakila.

            Shakila menarik sarung, udara malam ini tak akan bisa dilawan jika hanya dengan kain tipis itu. Tetapi setidaknya benda itu bisa melindungi tubuhnya dari moncong nyamuk yang mungkin sudah bersiap untuk beraksi sejak kapan waktu.

                        *******

            Waktu terus bergulir. Tetapi mata Shakila tidak bisa diajak kompromi. Mocong nyamuk-nyamuk nakal itu tajam sekali, dapat menembus kain sarung yang dikenakan Shakila. Shakila mendengus kesal. Berulangkali garuk sana, garuk sini. Dasar pengusik! Tidak bisa kah malam ini saja nyamuk-nyamuk itu berpuasa satu hari saja? Huft!

            “Mir, aku tidak bisa tidur. Kamu sudah tidur ya?” 

            Tidak ada jawaban, yang terdengar hanyalah dengkuran yang entah siapa pembuatnya.

Ah, Shakila punya ide. Amira pasti akan mendumel kalau selimut tebalnya ia ambil. 

Syuut! Tangan Shakila mendarat ke ranjang sampingnya. Meraba-raba. Eh, biasanya ia bisa dengan mudah menemukan benda berbulu menghangatkan itu. Tapi ini kok?

“Mir, kamu tumben tidak selimutan?”

Senyap.

Shakila mengambil posisi duduk. Tiba-tiba dirinya diselimuti perasaan was-was. 

Kali ini ia meraba-raba seluruh permukaan kasur ranjang sebelah kanannya, meski dalam kondisi gelap itu tidak menjadi masalah. Toh sekat ranjang satu dengan yang lain hanya berjarak sekitar 30 centimeter.

Deg!!!

Amira tidak ada. 

Hah? Yang benar saja? Kenapa Shakila baru menyadarinya sekarang? Amira, ke manakah ia? Ini sudah larut malam. Bisa jadi bencana kalau sampai salah satu petugas menemukan ia masih di luar sana. Oh, astaga! Di mana dia?


#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar