Pria Idaman Bunda_Part 4




((Part 4))
 
Shakila melangkah dengan gerakan slow motion bak sebuah adegan film yang didramatisir menegangkan-mendebarkan. Dan demi menetralisir debaran yang bersarang dalam dada, berulang kali ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Meni

Shakila amat yakin bahwa pria yang mengucapkan salam itu tak lain lagi A’ Faris. Anak semata wayang Abah Rama sekaligus kakak kelas Shakila sewaktu di pondok. Ya. Itu pasti dia. Karena suara pria tadi serasa tak asing di telinganya. 

Shakila lagi-lagi menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya kembali.

Begitu jarak ruang tamu hanya tinggal selangkah ke depan, mendadak kakinya terasa berat sekali, seakan ada borgol yang mengikat kedua kakinya. Bermaksud agar kakinya tak lanjut melangkah. Ya. Hanya tinggal menyibak tirai pembatas di depannya. Akhirnya berdiam diri di sana menjadi pilihan terakhirnya.

Dan dari tempatnya berdiri, ia dapat mendengar percakapan tiga manusia yang berada di ruang sebelahnya. Abah Rama bercerita panjang lebar tentang berbagai kemajuan yang terjadi di pondok. Sesekali bunda menyahuti. Dan pria yang masih menjadi teka-teki itu, entahlah. Tampaknya ia lebih memilih untuk tidak banyak bicara. Dan hal itu justru membuat Shakila jengkel sekaligus gemas sendiri. Sungguh! Sosok itu semakin membuat rasa penasarannya naik ke tingkatan paling tinggi.

“Shakila.” Suara bunda yang tiba-tiba saja menggema di gendang telinga Shakila, membuat seluruh memori tentang masa-masa kecil di pondok bersama A’Faris buyar seketika. Astaga, jantungnya berasa hampir loncat.

Dan naasnya saat sedang bersandar ke dinding sambil mengelus dada, Shakila lagi-lagi dikejutkan oleh bundanya yang tiba-tiba muncul dari balik tirai. Seperti hantu di film-film horor, datang tak diundang. Ia nyari berteriak, tapi tangan bunda sudah lebih dahulu membungkam mulutnya. 

“Ssst...! Jangan berteriak,” bunda segera menyeret tubuh putrinya ke dapur.

Shakila memberontak. Lagian, apa-apaan bundanya ini. Napasnya jadi tersengal karena tak sengaja tangan bunda  juga menutupi tempat masuk keluarnya udara, hidungnya.

“Aduh, Bunda apa-apaan sih menyeret paksa Kila seperti tadi. Kila jadi gak bisa napas tau Bun,” dumel Shakila sambil mengerucutkan bibir.

“Lagian kamu diam-diam malah nguping di balik tirai,” bunda menghela napas.

“Ya maaf.”

“Ya sudah, ayo ke depan.”

Akhirnya Shakila menaati komando sang bunda. Menyeret kedua kakinya sambil menundukkan kepala. Berjalan beriringan satu sama lain.

“Abah Rama, Nak Faiz, ini dia Shakila.”

Shakila mengerutkan dahi. Hah? Sebentar-sebentar. Apa yang kudengar tadi? Fa-Aa-Ii-Zed?Faiz? Ya Tuhan, yang benar saja? Tidak-tidak-tidak-tidak! Semoga saja aku yang salah mendengar. 

“Kila ayo duduk?” 

Shakila mengangguk, duduk di sebelah bunda. Selang lima detik ia berusaha mengangkat kepalanya perlahan, mencoba mengusir sebuah nama yang sedang tak ia harapkan untuk hadir di hadapannya. Tuhan, kuharap bukan bajingan menyebalkan itu.

Namun, saat retinanya menangkap pria berkoko putih dengan peci hitam yang menutupi kepala itu tersenyum menatapnya, harapan indahnya pudar seketika. Bagaikan debu yang tersiram air. Terpecah-belah antar partikel satu dengan yang lain, kemudian hanyut dan menghilang.

Enam pasang mata di ruangan itu masih menatap Shakila dengan senyum di bibir. Shakila terpaksa membalas tatapan itu satu per satu dengan senyum yang ia buat-buat untuk menutupi perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Rumit sekali untuk diungkap, ditulis, digambar, terlebih lagi dideskripsikan. Ah! Yang ia tahu hatinya sedang dipermainkan oleh perasaan. Yang sebentar singgah, kemudian menghilang. Dan itu terjadi secara berulang. Sungguh, siapa pun pasti tak menginginkan hal ini terjadi.

Shakila kembali teringat tentang masa-masa di pondok. Ya, segala peristiwa dari awal sampai ia lulus dari sana terekam dan tersimpan rapi dalam memori kepalanya. Matanya seakan bisa melihat jelas adegan demi adegan.

Faiz. Pria yang detik ini ada dihadapannya, yang katanya berniat baik ingin berta’arruf dengan Shakila. Duhai, Seharusnya tidak perlu. Tanpa cara ini Shakila sudah paham betul bagaimana perawakannya. Abah pun seharusnya tahu. Kalau Shakila sudah mengenalnya. Dan bukan hanya Shakila, seluruh santri pondok juga tahu ia itu seperti apa.

“Sebenarnya Kila pasti sudah mengenal Faiz. Karena Faiz adalah kakak kelas Kila. Tetapi, saya rasa kita tetap perlu melakukan proses ini. Toh, apa yang diketahui pada masa lampau dengan sekarang bisa saja berbeda. Karena kuperhatikan baik Kila maupun Faiz saat ini mengalami transformasi yang luar biasa. Lihatlah, Kila kecil yang dulu jilbabnya awut-awutan sekarang bisa berdandan bak dewi dari kayangan. Dan Faiz,  saat ini dia sudah tumbuh dengan pemahaman yang jauh lebih baik. Peringai buruknya sudah tertinggal jauh di negeri  Padang Pasir sana. Aduhai, kalian itu sekarang terlihat nampak serasi. Sama-sama berprestasi. Satunya tampan, satunya menawan. 

         Ah! Abah Rama tahu saja sih. Bagaimana caranya ia bisa membaca segala kecemasan yang Shakila sembunyikan? Jangan-jangan.... ? Aduh! Lupakan.

         Shakila akui penampilan Faiz sungguh amat berbeda. Jauh lebih baik. Bahkan Shakila jadi merasa Faiz terlalu baik untuk dirinya yang masih papa dalam ilmu agama. Akan tetapi, tetap saja. Keraguan dalam dirinya tetap lebih besar dibanding dengan kepercayaan.

           Ya Tuhan, apa yang harus kuperbuat?


#OneDayOnePost
 #ODOPbatch5
 #Terus_kobarkan_semangatmu_dalam_berkarya

3 komentar: