Pria Idaman Bunda_Part 2




((Part 2))
            Shakila langsung terbangun begitu mendengar deru mobil yang berasal dari luar rumah. Ia segera bangkit dari sofa. Tak sadar kalau ia sampai ketiduran di tengah menanti kepulangan bunda. Dan untuk memastikan apakah itu mobil yang mengantarkan bunda atau bukan, ia menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela ruang tamu. 

Shakila terus memperhatikan mobil hitam yang berhenti di halaman rumahnya dari balik tirai, hingga beberapa menit kemudian pintu mobil terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari baliknya. Shakila tahu persis siapa wanita tersebut, ia hafal postur tubuh dan pakaian khas yang dikenakan wanita itu. Iya, tak salah lagi itu adalah bundanya.

Saat Shakila melirik jam kotak yang menggantung di dinding, ia sedikit tak percaya. Jarum panjang dan pendeknya berada dalam satu garis mengarah ke angka dua belas. Hah? Yang benar saja? Tidak biasanya bunda pulang hingga selarut ini.

            Shakila mengucek kedua matanya. Ia pikir pasti ada yang salah dengan penglihatannya atau barangkali jam itu yang rusak. Entahlah.

            “Assalamu’alaikum,” saat Shakila tengah sibuk memastikan kebenaran waktu yang ditunjukkan dari benda kotak di atas sana, tiba-tiba terdengar ‘cekreeeeek!’ dan pintu terbuka.

            “Astagfirullah! Bunda. Ngagetin aja.” Shakila terperanjat kaget.

           “Loh, kok Kila belum tidur? Maaf ya, tadi Bunda di butik banyak urusan. Jadi sekarang baru pulang,” tutur Bunda.

            “Hehe, iya gak apa-apa. Shakila Cuma khawatir sama Bunda, karena dari tadi dihubungi tidak bisa,” Shakila meringis, memamerkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi.

            “Yaudah, sana tidur. Oh, ya. Besok Bunda akan ngenalin seorang ke kamu. Jadi, jangan sampai bangun terlambat seperti mingg-minggu biasanya ya.”

            Kedua alis Shakila saling bertaut. “Eh? Bunda ma-mau me-menikah lagi?” 

            Bunda tertawa. “Haduh, ya gak lah. Kamu tau pria yang baru mengantar Bunda? Nah, besok dia yang akan datang ke rumah. Semoga saja kalian sama-sama cocok.” Bunda mengedipkan sebelah matanya sambil mencolek hidung pesek putri kesayangannya sebelum mengkode ingin segera masuk kamar. Heh? Jadi tadi bunda melihat Shakila yang diam-diam mengintip dari dalam.

            Sedangkan Shakila masih mematung kebingungan. Tempurung kepalanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
*********

            Malam itu Shakila sulit memejamkan mata. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang siapa sosok yang akan diperkenalkan bunda untuk dirinya. Duhai, sebenarnya kalau Shakila berani jujur kepada bunda, lima tahun belakangan ini sudah ada pria yang menghuni hatinya. Ya, saat ini Shakila dan pria itu berteman amat akrab. Kebetulan setiap tugas Shakila dan pria itu selalu dipasangkan bersama. Jadi, di mana ada Shakila pasti di sana pria itu juga ada. Atau sebaliknya. Sampai-sampai mendapat julukan sweet couple dari seluruh rekan kerja.

            Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin kalimat yang dikatakan pepatah itu cocok untuk menggambarkan situasi yang tengah dialami Shakila. Tanpa sepengetahuan bunda Shakila sering kali menghabiskan waktu bersama dengan pria si patner kerjanya. Tidak hanya dalam urusan pekerjaan, tetapi ketika libur pekanan pun demikian. Meski pertemuan itu hanya diisi obrolan ringan tentang buku favorit masing-masing. Hanya pertemuan sederhana dan tanpa direncanakan. Karena setiap kali Shakila ke toko buku, pasti ia menemukan pria itu juga ada di sana. Entahlah, ini aneh sekali baginya.

 Shakila menganggap hal tersebut hanyalah sebuah pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Ia tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, apalagi sampai menumbuhkan perasaan harap yang berlebih. Ah ya, lagi pula ia tidak tahu bagaimana perasaan yang dimiliki pria tersebut. Karena meski pun pria itu kerap melontarkan perhatian, tidak sekali pun pernah membahas masalah perasaan. Shakila berjuang keras untuk bersikap biasa saja.

Ah! Tetapi hari ini. Malam ini. Pun pada detik ini, setelah mendengar kata-kata bunda tadi, kenapa ia jadi memikirkan pria itu? Pria yang menjadi patner kerjanya. Dan kini malah mengusik hati dan pikirannya.
*********
“Kila, pakai baju ini ya,” pagi-pagi sekali usai sholat Subuh bunda ke kamar Shakila menyerahkan sebuah gamis polos berwarna biru muda. Itu gamis baru yang sengaja bunda bawakan dari butik. Spesial katanya. “Jangan lupa dandan yang cantik ya. Bunda tinggal masak dulu. Kamu di kamar aja, gak perlu bantu Bunda.”

Shakila Cuma meng-iyakan. Malas banyak tanya. Biarlah hari ini ia menuruti segala permintaan, perintah, atau apa saja yang dikatakan bunda. Ia tidak berminat untuk merusak suasana hati bunda yang ketara sekali sedang amat bahagia menyambut hari ini. Toh ini hanya perkenalan. Tidak cocok ya tidak dilanjut. Shakila berusaha berpikir positif atas kemungkinan-kemungkinan yang akan ia hadapinya nanti.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.55. Saat itu Shakila sudah berpenampilan rapi. Kata bunda sih tamunya akan datang pukul sembilan. Aduh, kenapa Shakila jadi deg-degan? Padahal sebelumnya ia biasa saja. Tadi jantungnya tidak berdetak sekencang dan secepat ini. Huhft! Shakila harus berusaha menetralisir kecemasannya yang dirasa semakin tak karuan.

Tepat pada pukul 09.00 bel depan berbunyi. Bunda berteriak dari arah dapur agar aku membukakan pintu. Dengan langkah yang amat berat dan perasaan yang campuraduk Shakila keluar kamar untuk menuju ruang tamu. Menghampiri pintu jati yang diukir sedemikian rupa hingga terlihat amat menawan.

Jantungnya berdebar-debar. Panas-dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Sampai-sampai ia gemetar memegang gagang pintu. Dan rasanya tak kuasa untuk menarik gagang pintu itu agar terbuka. Tuhan, kuatkanlah aku.

“Klek!” 

Begitu pintu terbuka, Shakila langsung menganga. Mulutnya terbuka lebar. Ekspresinya sulit sekali dijelaskan. Bingung, terkejut, kecewa, sedih, marah, tak percaya, serta perasaan-perasaan lainya tumpah dalam wadah yang sama. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang sekarang nampak di hadapannya. 

“A-a-a-bah Ra-ma?” 

HAH?! Jadi pria yang dimaksud Bunda adalah Abah Rama? Ya Tuhan, apakah Bunda ingin menjodohkan aku dengan duda pemilik pesantren tersohor di kota ini? Tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi!!
********

2 komentar: