Pria Idaman Bunda_Part 1

((Part 1)) 



“Kila? Kamu belum tidur, sayang?”
Shakila yang tengah melamun di bangku dekat jendela terperanjat kaget karena sang bunda tiba-tiba muncul di belakangnya. Menepuk pelan bahu Shakila.
“Maaf ya, jika Bunda mengagetkanmu. Tadi pintu kamarmu terbuka. Niat Bunda hanya ingin menutupnya. Eh, ternyata kamu belum tidur."
Shakila mengangguk kecil. Bola matanya kembali memperhatikan kemilau cahaya yang bertaburan di langit malam.
“Apa yang sedang kamu pikirkan cantik? Sudah selarut itu tumben sekali belum tidur. Eng... Apakah kamu masih memikirkan percakapan tadi sore?” Bunda bertanya dengan hati-hati.
“Ah, bunda tahu saja,” batin Shakila dalam hati. Tetapi, kepalanya justru menggeleng lemah, lagi-lagi disertai senyum yang terpaksa. “Tidak kok. Kila hanya sedang memikirkan pekerjaan di kantor. Bunda tidak usah khawatir.”
********
Suatu sore Shakila baru tiba di rumah. Masih lengkap mengenakan pakaian kerjanya. Juga tas selempang cokelat tua yang tersampir di bahu. Tangan sudah melekat di gagang pintu kamar. Hendak masuk. Namun tak jadi. Ia urungkan niat tersebut, karena tiba-tiba terdengar teriakan bunda dari arah dapur. “Kila? Kamu tidak lupa kan?”
Shakila menepuk jidatnya. Astaga. Ia lupa membelikan gula titipan Bunda.
Karena tidak berkenan menjawab pertanyaan bunda dengan balas berteriak, akhirnya ia menghampiri bundanya di dapur. Tidak jauh jaraknya, antara kamar dengan dapur hanya bersekat satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang makan sekaligus ruang keluarga.
“Maaf Bun. Kila kelupaan beli gula pesanan Bunda. Tadi bawaannya kepengen buru-buru pulang karena kerjaan di kantor membuat kepala Kila penat,” jelas Shakila dengan raut merasa bersalah.
“Oh, tidak masalah. Bunda ternyata lupa kalau di lemari masih ada satu bungkus. Hehe,” tutur Bunda sembari memutar saklar pada kompor gas ke arah kanan yang tertera tulisan off. Kemudian berbalik badan sembari melepas celemek  yang dikenakannya.
Nampaknya Shakila tahu Bunda usai memasak makanan apa. Karena kepul asap yang membumbung dari wajan menghasilkan aroma yang dikenal sangat baik oleh indera penciumannya. Yeah! Tidak salah lagi.
 “Bunda masak sup bakso kesukaan Kila ya?” Shakila bertanya dengan mata berbinar-binar.
“Iya sayangku.”
Aduhai, rasanya ingin buru-buru menyatap makanan tersebut. Terlebih lagi selama seharian ini perutnya belum sempat diisi oleh apa pun. Shakila tidak sadar bahwa ia sudah berjalan menuju kompor dengan mangkuk di tangan.
“Eits! Kila!” seruan bunda membuat centong di tangan Shakila jatuh ke lantai. Satu buah bakso menggelinding dan berhenti di depan kaki bunda.
“Eh, Astagfirullah! Kila lupa kalau hari ini puasa,” Gelapapan Shakila meletakkan kembali mangkuknya ke rak dan mencari pel untuk membersihkan lantai yang terkena tumpahan sop akibat perbuatannya.
Bunda hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putri semata wayangnya.
Setelah selesai membersihkan tumpahan sop Shakila izin ke kamar, ia mau mandi. Sedangkan bunda menyiapkan hidangan di meja untuk buka puasa.
Saat adzan Maghrib berkumandang, Shakila keluar kamar. Pakaian dinasnya sudah berganti dengan kaos bergaris lengan panjang dan rok hitam polos selutut.
“Alhamdulillah!” Shakila berseru senang. Mempercepat langkahnya menuju meja makan yang di atasnya sudah ada teh hangat, gorengan, dan semangkuk sup bakso yang dari sejak tadi aromanya menggoda keimanan.
Bunda tertawa kecil.
Keduanya pun mengawali buka puasa dengan do’a bersama. Dan segera menyantap hidangan yang ada.
Bunda berdehem. “Kila?"
"Ya Bun?"
"Kamu ingat? Bahwa besok usiamu genap dua puluh lima tahun. Kapan mau nyusul Mira?”
Shakila yang tadinya tengah menikmati sup baksonya langsung tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan bunda. Dengan sigap bunda menuangkan air putih dalam gelas dan menyodorkan kepada putrinya.
“Eh, maksudnya apa ya Bun?” Shakila pura-pura tak mengerti. Padahal ia tahu percakapan bunda akan mengarah ke mana.
Bunda mengehela napas. Mengelap mulutnya yang sedikit berminyak dengan tisu. “Jadi, kapan kamu menikah? Mira dan kamu kan seumuran. Masa kamu kalah sih? Masalah cantik jika dibandingkan dia, Bunda rasa kamu lebih oke. Soal prestasi? Boro-boro si Mira pernah juara di kelas, dulu aja dia gak naik kelas dua kali. Apa lagi coba? Dia itu gak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Tapi, masa sekarang kamu kalah sih dengan dia? Dia sudah berkeluarga dan memiliki dua momongan. Bunda merasa malu setiap kali arisan pada ngomongin menantu, cucu," jelas bunda dengan wajah tertunduk sedih. 
Shakila menggigit bibir. Ia baru tahu selama dua minggu belakangan ini Bunda malas diajak arisan oleh teman-temannya tersebab hal tersebut.
“Bun, masalah jodoh kan tidak memandang yang cantik atau yang pintar harus menikah duluan bukan? Hal tersebut ketetapan Allah yang tertulis permanen dalam lauf mahfuz. Tak ada yang kuasa mengubah tanggal atau pun nama yang sudah tertera di sana. Bukankah dahulu Bunda pernah mengatakan hal ini?”
********



#OneDayOnePost
#ODOPbantch5


5 komentar:

  1. gelar tiker aaah, nunggu sambungannya, penasaran

    BalasHapus
  2. Huah... diingetin.
    Yah, begitulah nasibnya jomblo, #eh

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Kayaknya ada yg typo . harusnya lauh mahfuz bukan lauf mahfuz. Masalah jodoh masalah paling misterius. Seakan ada faktor x yg membuat org cepat dapat jodoh

    BalasHapus